Diberikannya kebebasan seluas-luasnya untuk merayakan Imlek sejak masa kepemimpinan Gus Dur, berdampak luas bagi masyarakat Indonesia, khususnya di sektor pariwisata.
Di Kalbar, dengan etnisitas beragam, termasuk etnis Tionghoa, menyambut baik kebijakan ini. Pemerintah daerah melalui pemerintah pusat yang sebelumnya melarang perayaan Tahun Baru Imlek, juga merasakan dampak keuntungan itu.
Tak ketinggalan Kalimantan Barat yang notabene dihuni oleh banyak warga keturunan Tionghoa. “Tahun Baru Imlek dan Cap Go Me merupakan salah satu potensi pariwisata yang dimiliki oleh Kalbar,” kata Kepala Bidang Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalbar, Susanto Tri Nugroho di ruang kerjanya, Jumat (1/2).
Ia mengungkapkan, Imlek dan Cap Go Me menjadi bagian dari pesona budaya untuk mempromosikan Visit Indonesia Year (VIY) 2008. Menurutnya, banyak keuntungan yang diperoleh dari perayaan ini, terutama di sektor ekonomi, budaya dan sosial. Segi ekonomi misalnya, dengan banyaknya wisatawan dari negara lain seperti China, Taiwan, Malaysia dan Hong Kong, tentunya akan memberikan dampak bagi peningkatan pendapatan devisa daerah.
Mereka yang datang tersebut selain bertujuan untuk mengunjungi sanak famili atau tanah leluhurnya, juga untuk menyaksikan langsung kebudayaan masyarakat Tionghoa di Indonesia. Hal unik lainnya dari perayaan Cap Go Me, sebagai upacara ritual lima belas hari setelah acara Imlek, banyak diisi permainan Tatung. Permainan ini menjadi nilai tarik tersendiri, dimana perayaan itu hanya terdapat di Kalbar.
Pengunjung yang datang ke kalbar tidak hanya berasal dari luar negeri. Dari dalam negeri, khususnya di luar Kalimantan banyak pula yang ingin merayakan Imlek. Mereka juga mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk mengunjungi sanak famili atau tanah leluhurnya.
“Transportasi, Pelayanan jasa seperti hotel, pedagang merupakan sektor ekonomi yang akan meraup untung langsung dari turis,” ungkapnya. Para turis tersebut tentunya akan memberikan kontribusi yang sangat besar bagi pendapatan daerah karena.
Sedangkan di sektor sosial dan budaya, perayaan Imlek dengan sendirinya akan memberikan warna keberagaman budaya yang ada di Kalbar dan daerah lain di Indonesia. Paling tidak, dengan adanya pengenalan tersebut akan memberikan keuntungan dalam interaksi sosial untuk saling menghargai antar masing-masing etnis yang berbeda. Dengan perbedaan yang ada, dengan sendirinya akan menciptakan suasana kondusif bagi perkembangan ekonomi suatu daerah.
Tidak kalah pentingnya adalah budaya yang akan menjadi asset berharga untuk menunjang sektor pariwisata kalbar. “Tahun 2007 yang lalu, wisatawan yang datang ke Kalbar diperkirakan sebanyak 26.000 orang lebih dan target untuk tahun 2008 ini adalah 27.500,” tambahnya.
Biasanya para wisatawan tersebut mulai kembali ke daerah asalnya pada empat hari setelah perayaan Cap Go Me. Untuk itu, Susanto mengharapkan pemerintah yang baru tetap meningkatkan situasi kondusif seperti yang terjadi hingga saat ini.Minggu, 3 January 2008
Page : 19
Ngani Meh Asi Ikit
Wellcome in my life, Christian Flores Ende.
I am come from Banua Lumar, West Borneo
I am come from Banua Lumar, West Borneo
Kamis, 21 Februari 2008
Langganan:
Komentar (Atom)